Bukan Presiden, Aku Pilih Wartawan

- Redaksi

Rabu, 16 Juli 2025 - 20:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Senin pagi, 14 Juli 2025. Kota Bekasi., hari masih sedikit terang dan gedung sekolah yang masih lengang. Anak-anak berseragam putih merah berjalan beriringan, sebagian memegang tangan ibunya erat, sebagian lagi saling bercanda mengusir gugup memasuki ruang kelas barunya.

Hari itu masa pengenalan lingkungan sekolah, dan para guru meminta anak-anak satu per satu maju ke depan untuk menyebutkan nama, tempat tinggal dan juga cita-cita mereka. Anak-anak lain pun memperkenalkan diri dan menyebut cita-citanya: presiden, dokter, tentara, polisi, astronot dengan suara ceria dan tepuk tangan kawan-kawan mereka.

Di antara mereka, seorang anak perempuan kelas lima berdiri tegak dan perlahan maju kedepan kelas saat tiba giliranya. Dengan senyumnya yang kikuk namun matanya berbinar tanda percaya diri, anak perempuan itu maju perlahan dan memperkenalkan dirinya serta mengucapkan cita-citanya.

“Aku ingin jadi wartawan seperti Bapak ku…”

 

Hening sejenak, sebelum ruang kelas pecah dengan tepuk tangan polos kawan-kawannya.

Hening, mungkin bagi anak-anak se-usianya cita-cita tersebut tak umum dan kurang lazim menjadi sebuah cita-cita atau juga memang profesi tersebut tak menjanjikan masa depan yang gemilang dan terhormat, mungkin.

Bagi sang anak, cita-cita itu mungkin terdengar sederhana, namun di matanya, berdasarkan pengalaman melihat bapaknya, menjadi wartawan dikenal banyak orang dari semua level golongan, supel dan ramah serta menjadi penolong bagi mereka yang tidak bisa melihat, menjadi suara bagi mereka yang tidak bisa bersuara.

Anak itu mungkin juga sering mendengar cerita bapaknya setiap malam, tentang banjir di perkampungan pinggir Kali Bekasi, tentang sidang korupsi yang panjang dan melelahkan, tentang kantor polisi dan pengadilan yang lampunya tak pernah benar-benar padam, tentang penindakan TKA, tentang hak tanah waris yang belum terbayarkan ganti ruginya dan tentang banyak hal lain yang mungkin menurutnya menjadi dasar memilih cita-cita tersebut.

Ia juga kerap mendengar cerita ayahnya yang tidur hanya dua jam, mengejar berita sambil menunggu narasumber berjam-jam, makan nasi bungkus dingin(kerap lupa makan), menulis dengan ponsel baterai yang hampir habis, demi satu hal: fakta.

Atau bagaimana ayahnya harus duduk lama di pinggir jalan di depan kantor pemkot, kejaksaan, imgrasi dan kantor-kantor dinas lain nya hanya demi mendapatkan satu kutipan demi menulis berita yang adil sesuai kaidah jurnalistik.

Anak itu juga sering melihat bapaknya berangkat subuh dan pulang larut malam dengan mata sembab sambil terus membuat narasi redaksi berita pilu tentang hak dan keadilan yang dirampas.

Dan di pagi itu, di hadapan guru dan teman barunya di kelas lima, sang anak menyebutkan cita-citanya dengan penuh percaya diri, seolah ingin berkata pada dunia:

“Aku akan meneruskan jejak ayahku. Jika kebenaran itu harus dicatat, aku akan menjadi penulisnya. Jika suara mereka harus didengar, aku akan menjadi pengerasnya.”

 

Anak perempuan kelas 5 itu telah memutuskan menjadi penjaga kebenaran—meski ia belum tahu, menjadi wartawan berarti siap hidup dalam badai, menulis dengan luka, dan mungkin, mati dengan nama baik.

Dan pagi itu, seorang anak dengan seragam putih merah telah menyatakan tekadnya dengan lantang:

“Aku ingin menjadi wartawan seperti bapak ku.”

 

Anak perempuan itu tahu satu hal: menjadi wartawan bukan hanya sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa. Menjadi pilihan kuat dihatinya untuk menjadi penulis kebenaran, menjadi pembela mereka yang tak terdengar, menjadi saksi mereka yang terlupakan.

Karena menjadi wartawan bukan sekadar profesi, tapi janji pada nurani: bahwa kebenaran layak diberitakan, walau itu sulit dan mahal.

Karena anak itu percaya, seperti bapaknya, bahwa kebenaran tidak akan pernah mati selama masih ada yang mau menulisnya.

Dan langit Senin pagi itupun menjadi sedikit lebih biru, karena seorang memulai langkah pertamanya, bukan hanya sebagai pelajar, tetapi sebagai penanda bahwa masih ada generasi yang akan melanjutkan api dedikasi wartawan—merekam denyut rakyat, menulis tentang hujan dan air mata, menuliskan tawa dan harapan, bahkan jika harus dibayar dengan lelah, bahkan jika harus dengan nyawa.

 

Anak perempuan itu, anak ku…

 

(Dicky Machruzar Siregar)

 

 

Berita ini 169 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Desember 2025 - 21:07 WIB

Lindungi Generasi Kota Bekasi: Gilang Esa Ajak RT/RW Bergerak Bersama

Sabtu, 29 November 2025 - 06:24 WIB

Ayo ke Serang Banten! Kick Off HPN 2026 Pesta Rakyat Berhadiah Motor dan Elektronik

Sabtu, 22 November 2025 - 03:46 WIB

Aksi Sosial Panitia Natal oleh Maruarar Sirait : Dari Palestina hingga Beasiswa, Steven Beri Dukungan Penuh

Kamis, 2 Oktober 2025 - 23:05 WIB

Ajang PLN Journalis Award 2025 Di buka, Apresiasi Untuk Pewarta Pengerak Lletarasi Energi Nasional

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 15:48 WIB

PAB Ajak Rakyat Bersatu Jaga Pancasila dan UUD 1945

Minggu, 24 Agustus 2025 - 22:07 WIB

Semarak HUT RI ke-80, PLN Bekasi Hadirkan Cahaya untuk 20 Warga Pra-Sejahtera Gratis

Sabtu, 23 Agustus 2025 - 13:21 WIB

Panaskan Mesin Organisasi Melalui August Run, Farah Rizky: Hipmi Run 2026 Siap Menggema!

Senin, 4 Agustus 2025 - 19:14 WIB

Tinju Kota Patriot Bangkit, Menpora Akui Dominasi Bekasi

Berita Terbaru