DariBekasiNews, Kota Bekasi — Arus urbanisasi pasca-Lebaran kembali mengalir deras ke Kota Bekasi. Fenomena tahunan ini tak lagi sekadar perpindahan manusia, tetapi menjadi sinyal bahwa Kota Patriot masih dipandang sebagai ruang harapan bagi pencari kehidupan baru.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Ahmadi yang akrab disapa Madong, menilai urbanisasi merupakan dinamika sosial yang tidak bisa dihindari. Pergerakan masyarakat dari satu daerah ke daerah lain adalah bagian dari upaya mencari penghidupan yang lebih baik.
“Dalam ajaran agama juga dianjurkan untuk berhijrah dalam mencari rezeki. Jadi secara prinsip, hal itu sah-sah saja,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Menurut Madong, daya tarik Kota Bekasi tidak lepas dari posisi strategisnya sebagai wilayah penyangga ibu kota serta geliat ekonomi yang masih menjanjikan. Bekasi menjadi magnet bagi mereka yang ingin mengubah nasib dan membuka peluang baru.
Namun di balik harapan tersebut, Madong mengingatkan adanya risiko yang tidak bisa diabaikan. Ia menegaskan bahwa urbanisasi tanpa kesiapan justru dapat menimbulkan persoalan baru, baik bagi pendatang maupun bagi kota itu sendiri.
Tanpa bekal keterampilan, jaringan, dan kesiapan mental, para pendatang berpotensi menghadapi kesulitan ekonomi yang berujung pada masalah sosial.
“Jangan sampai datang tanpa persiapan. Kalau tidak siap, justru bisa menambah persoalan baru di tengah masyarakat,” tegasnya.
Madong juga menyoroti fakta bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan di Kota Bekasi belum sepenuhnya mampu mengimbangi jumlah pencari kerja yang terus bertambah.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah, yang dituntut untuk tidak hanya menerima arus urbanisasi, tetapi juga mampu mengelolanya secara bijak dan terukur.
“Pemerintah daerah juga belum bisa mengakomodasi semua pencari kerja yang ada. Ini menjadi tantangan tersendiri,” katanya.
Dengan bertambahnya jumlah pendatang setiap tahun, kompleksitas persoalan sosial pun berpotensi meningkat. Mulai dari pengangguran, kepadatan penduduk, hingga tekanan terhadap fasilitas publik menjadi konsekuensi yang harus diantisipasi sejak dini.
Karena itu, Madong mendorong adanya langkah konkret dan kolaboratif dari semua pihak—pemerintah, masyarakat, hingga para pendatang itu sendiri—agar urbanisasi tidak berubah menjadi beban, melainkan tetap menjadi peluang.
Di tengah derasnya arus perpindahan manusia, Bekasi dihadapkan pada pilihan: menjadi kota harapan yang terkelola dengan baik, atau justru kota yang kewalahan menghadapi realitas sosialnya sendiri.
(AdvertorialSetwan/DPRDKotaBekasi)






