Dari Bekasi News, Kota Bekasi — Ramadan bukan sekadar pergantian kalender ibadah. Ia adalah ruang sunyi tempat manusia belajar menata ulang dirinya: menahan nafsu, memperbaiki kebiasaan, dan mengukur ulang arti kesuksesan.
Pesan itu disampaikan Dr. Siti Mukhliso, S.Ag., M.Ag. , anggota DPRD Kota Bekasi Dapil 3 Kota Bekasi dari Fraksi PKS saat menghadiri kegiatan keagamaan yang digelar remaja masjid di lingkungan Masjid Al-Musthofa, Mayang Pratama. Dalam suasana silaturahmi bersama warga, ia menegaskan bahwa momentum Ramadan harus dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan positif yang berdampak panjang dalam kehidupan.
Menurutnya, seorang wakil rakyat tidak harus menunggu masa reses untuk menyerap aspirasi masyarakat. Kehadiran di tengah kegiatan sosial dan keagamaan justru menjadi jembatan yang lebih hangat antara pemimpin dan rakyat.
“Banyak momentum bagi seorang dewan untuk turun ke masyarakat, bersilaturahmi dan mendengar langsung suara warga,” ujarnya.
Namun lebih dari itu, Dr. Siti Mukhliso menyoroti sisi reflektif Ramadan sebagai laboratorium pembentukan karakter manusia.
Ia mengingatkan bahwa dalam ilmu perilaku, seseorang membutuhkan sekitar 21 hari untuk membentuk kebiasaan baru. Ramadan yang berlangsung hampir satu bulan, kata dia, menjadi kesempatan emas untuk melatih disiplin diri—mulai dari menahan amarah, memperbaiki pola hidup, hingga memperbanyak kebaikan. “Ramadan adalah momentum membangun kebiasaan positif,” katanya.
Di tengah era media sosial yang sering memamerkan keberhasilan materi dan jabatan, Dr. Siti Mukhliso juga mengajak masyarakat untuk tidak terjebak pada definisi kesuksesan yang sempit.
Ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan hidup tidak selalu terlihat dari sorotan kamera, popularitas digital, atau kemewahan yang dipamerkan di layar gawai.
“Kesuksesan itu tidak hanya tentang jabatan atau materi. Kadang kalau ukurannya hanya apa yang terlihat di media sosial, nilai-nilai kebaikan bisa jadi kabur,” ujarnya.
Karena itu, Ramadan harus menjadi waktu bagi setiap orang untuk kembali menata niat dan arah hidup. Dari sahur hingga tarawih, dari sedekah hingga doa di sepertiga malam, semua adalah latihan batin yang membentuk manusia lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli.
Bagi Dr. Siti Mukhliso, keberhasilan sejati bukanlah sekadar prestasi dunia yang gemerlap, melainkan ketenangan hati karena hidup dijalani dengan nilai dan kebaikan.
Di bulan yang penuh rahmat ini, ia berharap masyarakat tidak hanya menjalani ritual ibadah, tetapi juga membawa pulang pelajaran besar dari Ramadan: bahwa perubahan besar sering kali lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.
(AdvertorialSetwan/DPRDKotaBekasi)






